Dari rambutku pendek sampai panjang lagi.
Dari tubuhku kurus sampai berisi lagi.
Dan dari tangisan sampai akhirnya bisa tersenyum lagi.
Tidak ada yang tahu serpihan kaca mana yang sudah aku lewati, bahkan sampi detik inipun, aku masih merangkak untuk berjalan.
Hanya karena aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa semua akan baik baik saja, walaupun setengah mati aku berdamai dengan luka dan trauma yang sampai saat ini sepenuhnya tidak akan pernah sembuh,
Aku melihat cermin, kemudian tidak lagi mengenal siapa yang berdiri disana.
sekian luka sudah merubahnya dan menuntut untuk sadar betapa sulitnya menggapai mimpi yang dulu kekal dalam jawaban ketika ditanya. " kamu mau jadi apa..?".
semakin lama menatap cermin, semakin yakin kamu bakal bahagia, dan dia yang menatap cermin berlinang air mata, lalu sialnya, dunia masih terus berjalan seperti seharusnya.
namun masih berpura pura menahan tangis karena tidak memiliki ruang.
Dan malam akan menjadi sesuatu yang begitu menakutkan.
Ketika malam selalu berhasil membuat kacau isi kepala, satu demi satu kesedihan dan ketakutan memenuhi malamku yang terasa hampa, dan emosi tidak terkontrol karena selalu memendam semua rasa sakit sendiri.
Mata yang dahulu indah menyimpan banyak harapan, kini sudah ditelan rasa kehampaan.
Raga yang dahulu terlihat baik baik saja, kini sering kelelahan meskipun tak melakukan apapun.
Satu yang pasti, sakit kali ini tidak sederhana.
Comments
Post a Comment